18/10/2021

Flightlevel350 – Situs Tentang Penerbangan dan Pesawat Terbaru dan Terlengkap

Flightlevel350 Memberikan Berita dan Informasi Tentang Penerbangan dan Pesawat Terbaru dan Terlengkap

10 Nama Perguruan Pencak Silat Di Indonesia Dan Sejarahnya!

www.flightlevel350.com10 Nama Perguruan Pencak Silat Di Indonesia Dan Sejarahnya! Pencak silat merupakan warisan budaya leluhur dan bagian tak terpisahkan dari kekuatan hidup bangsa Indonesia yang meliputi spiritual, mental, pencak silat, kesenian dan olah raga. Pencak silat telah menjadi bagian dari budaya negara dan bagian tak terpisahkan dari keamanan nasional Indonesia. Berkat rahmat Tuhan Yang Maha Esa dan perencanaan yang matang, upaya yang tertib dan berkelanjutan, telah menjadi kesepakatan nasional untuk mendirikan Organisasi Pencak Silat Indonesia lebih dikenal dengan Ikatan Pencak Silat Indonesia atau (IPSI) yang didirikan pada tanggal 18 Mei tahun 1948. Surakarta, Jawa Tengah.

Di bawah kepemimpinan Mayor Jenderal Eddie Marzuki Nalapraya dari IPSI, 10 organisasi pencak silat dan perguruan tinggi dianugerahi gelar Lembaga Sejarah Pencak Silat dan menjadi anggota khusus IPSI sesuai dengan Pasal 2 UUD IPSI.

Pemberian penghargaan Lembaga Sejarah Pencak Silat didasarkan pada pertimbangan sebagai berikut: 10 organisasi dan sekolah Pencak Silat diyakini telah mempengaruhi sejarah dan perkembangan IPSI dan Pencak Silat secara keseluruhan antara tahun 1948 dan 1973. Organisasi dan perguruan tinggi ini telah membentuk Organisasi Pencak silat Nasional Indonesia yang tunggal, yang disebut IPSI. Organisasi dan akademi ini pun memiliki kesatuan dukungan, menjadikan IPSI sebagai anggota KONI dan kesatuan pendukungan untuk memasukkan pencak silat ke dalam PON, sebagai salah satu cabang olahraga yang di tandingkan.

Berikut sepuluh organisasi dan perguruan Pencak Silat yang termasuk dalam kategori Sejarah Pencak Silat :

1. Persaudaraan Setia Hati

Pencak Setia Hati didirikan pada tahun 1903 oleh Ki Ngabehi Soerodiwirjo di daerah Tambakgringsing Surabaya, provinsi Jawa Timur, yang lantas dikenal dengan nama Pencak Djojo Gendilo Tjipto Moeljo dan perkumpulan bernama Sedoeloer Toenggal Ketjer. Di tahun 1917 silam, nama perusahaan diubah menjadi PSH atau Persaudaraan Setia Hati yang berlokasi di Medien, Jawa Timur.

Pencak Setia Hati dibentuk oleh Ki Ngabehi Soerodiwirjo yang juga dikenal sebagai Eyang Suro karena hasil belajar pencak silat dari berbagai daerah. Setelah menyelesaikan studinya di Sekolah Rakyat, Eyang Suro mendapat pelatihan magang sebagai pengontrol juru tulis di Belanda pada tahun 1891. Selain bekerja, Eyang Suro melanjutkan kuliah di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur. Dari pesantren inilah, Eyang Suro mulai belajar agama dan pencak silat pada saat yang bersamaan.

Pada tahun 1892, Eyang Suro diangkat sebagai Kepala Pegawai Bandung, Jawa Barat, kemudian belajar pencak dari Cimande, Cikalong, Ciampea, Cibadyuut, Cipetir, Cilayamaya, Sumedang dan tempat-tempat lain. Setahun kemudian, Eyang Suro pindah ke Jakarta untuk mempelajari seni bela diri di Betawen, Kwitang, Monyetan dan toya.

Setahun kemudian, Eyang Suro harus pindah lagi ke Bengkulu selama 6 bulan, lalu ke Padang di Sumatera Barat. Di kawasan ini, Eyang Suro mempelajari endapan lumpur dari Pariaman, Taralak, Padangpanjang, Alanglaweh, Singkarak, Padangalai, Solok, Lintau, Benteng Gabus, Sipai, Airbangis, dan tempat-tempat lain. Salah satu gelar gurunya adalah Datoek Radjo Batoeah.

Setelah menambah kekayaan pencak silat dan ilmu kebatinan Sumatera Barat, Eyang Suro berhenti dari pekerjaannya pada tahun 1898 dan melanjutkan perjalanannya ke luar negeri ke Sumatera Utara dan Aceh. Di daerah inilah Eyang Suro belajar silat dari Tengkoe Achmad Moelia Ibrahim. Pencak silat yang dipelajari adalah silt dari Binjai, Langsa, Tarutun, Padangsidempuan dan tempat lainnya. Selain belajar bodoh, Kakek Suro juga mendapat nasehat spiritual dari Njoman Ida Gempol dan Tjik Bedojo.

Pada tahun 1902, Eyang Suro kembali ke Surabaya dan bertugas sebagai petugas polisi di tingkat polisi utama. Pada tahun 1903, Eyang Suro mendirikan persaudaraan bernama Sedoeloer Toenggal Ketjer di Surabaya, Tambakringsing. Pada tahun 1915, Eyang Suro pindah ke sebuah bengkel kereta api di Madiun untuk melanjutkan pendidikan pencak silat, kemudian pada tahun 1917, nama saudara laki-lakinya diubah menjadi Setia Hati disingkat SH. Nenek Suluo meninggal pada tahun 1944 dan dimakamkan di dekat Desa Winongo di madiun.

Pada tanggal 22 Mei 1932 atas prakarsa Moenandar Hardjowijoto dari kecamatan Ngrambe, kabupaten Ngawi, provinsi Jawa Timur, ia menjadi murid Eyang Suro. Ia mencapai jebakan ketiga dan mendirikan organisasi atas prakarsa Semarang, Jawa Tengah. Ungkapan komitmen terkadang setia Hati dari Magelang, Semarang, Solo, Yogyakarta dan tempat lain. Karena tersusun dari Setia Hati yang berkali-kali lipat maka disebut Setia Hati Organisasi atau SHO yang artinya orang yang menyelenggarakan Setia Hati. Saat itu hadir 50 frater Setia Hati dan perwakilannya, antara lain Soeripno, Soewignjo, Sajoeti Melok, Soekandar, Hartadi, Soemitro, Soetardi, Karsiman, Kasah.

Pada Kongres ke-13 yang diadakan di Yogyakarta pada tahun 1972, kedua belah pihak mengambil keputusan untuk mengubah nama organisasi Setia Hati menjadi Persaudaraan Setia Hati. Perubahan nama tersebut merupakan pernyataan ketua rombongan, Moenandar Hardjowijoto yang mengatakan bahwa terkadang organisasi Setia Hati tidak lagi mengenal garis pemisah antara keluarga Setia Hati, dan persaudaraan SHO menjadi SH tanpa O (organisasi). Ke sumbernya.

Baca Juga:

12 Olahraga Tradisional Asli Indonesia

2. Persaudaraan Setia Hati Terate

Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) awalnya bernama Setia Hati Pencak Sport Club (SH PSC) dan didirikan pada tahun 1922 di Pilangbango, Medien, Jawa Timur oleh Ki Hadjar Hardjo Oetomo, murid dari penciptanya Ki Ngabehi Soerodiwirjo. Pencipta Setia Hati.

Tahun itu pula, Ki Hadjar Hardjo Oetomo juga bergabung dengan Organisasi Islam Sarekat untuk bersama-sama melawan penjajahan Belanda. Sebagai pejuang tertinggi, Ki Hadjar sangat ingin berbagi ilmunya dengan orang lain. Namun, latihan pencak di SH Pencak Sports Club kemudian ditemukan oleh penjajah Belanda dan oleh karena itu dilarang dan dibubarkan.

Untuk mengelabui penjajah Belanda, SH Pencak Sports Club yang dibubarkan oleh Belanda diluncurkan kembali secara rahasia, strateginya adalah dengan membatalkan istilah Pencak dan menjadikannya SH Sport Club. Murid Ki Hadjar juga tumbuh dan menyebar ke Kertosono, Jombang, Ngantang, Lamongan, Solo dan Yogyakarta. Kesempatan ini diambil Ki Hadjar untuk memperkuat perlawanannya terhadap penjajah Belanda.

Pada tahun 1925, penjajah Belanda menangkap Ki Hadjar dan menahannya di penjara Madiun. Ketika Ki Hadjar mencoba membujuk para tahanannya untuk memberontak melawan penjajah Belanda, Ki Hadjar dipindahkan ke Penjara Cipinang dan kemudian ke Penjara Padang Panjang di Sumatera. Setelah lima tahun di penjara, Ki Hadjar kembali ke Pilangbango di kampung halamannya di Madiun.

Beberapa bulan kemudian, aktivitas yang stagnan kembali terjadi. Ketika penjajah Jepang tiba di Indonesia pada tahun 1942, SH Pemuda Sports Club berganti nama menjadi SH Terate.

Enam tahun kemudian, tahun 1948, SH Terate mulai berkembang ke segala arah. Berdasarkan hasil rapat rumah almarhum Ki Hadjar, SH Terate yang saat itu didirikan sebagai Sekolah Pencak Silat kemudian direorganisasi menjadi organisasi Persaudaraan Setia Hati Terate. Soetomo Mangkoedjojo, murid Ketua Ki Hadjar, sudah mencapai jenjang ketiga.

Atas kontribusinya dalam perjuangan melawan penjajah Belanda, Ki Hadjar Hardjo Oetomo dianugerahi gelar pahlawan perintis kemerdekaan.

3. Keluarga Silat Nasional Indonesia Perisai Diri

Keluarga Silat Nasional Indonesia Perisai Diri dibentuk oleh R.M. Soebandiman Dirdjoatmodjo pada tanggal 2 Juli 1955 silam, yang dibentuk di Surabaya, Jawa Timur.

R M. Soebandiman Dirdjoatmodjo, atau Pak Dirdjo, lahir pada tanggal 8 Januari 1913 di lingkungan Pura Pakualaman Yogyakarta. Dia adalah putra tertua dari R.M. Pakoe Soedirdjo, kakek buyut Sri Paduka Paku Alam II.

Sejak usia 9 tahun, Pak Dirdjo sudah bisa menguasai ilmu pencak silat di keraton, sehingga ia percaya diri dalam melatih teman-temannya di lingkungan Pura Pakualaman. Selain pencak silat, ia juga belajar menari di Keraton Pakualaman agar bisa berteman dengan Wasi Hassan Djojohadi Soewarno dan Bagong Koessoediardja.

4. Perguruan Silat Nasional Perisai Putih

Perguruan Tinggi Silat Nasional Perisai Putih atau PSN Perisai Putih didirikan di Surabaya pada tanggal 1 Januari 1967 oleh Raden Achmad Boestami Barasoebrate atau yang juga dikenal dengan Pak Boestam.

Beasiswa Pak Boestam berasal dari kakeknya K.H. Salim (Agoes Salim) atau masyarakat Sumenep (Sumenep) yang disebut Ki Lamet (Ki Lamet). Pak Boestam adalah anak ketiga dari sembilan bersaudara yang lahir pada tanggal 4 Desember 1939 di Bangselok, Sumenep, Madura.

Pak Boestam juga mempelajari berbagai aliran seni bela diri di pulau-pulau dan seni bela diri asing yang masuk ke Indonesia. Dia bereaksi dengan bijak terhadap perbedaan gaya pencak silat di berbagai sekolah. Pak Boestam meyakini bahwa semua sekolah pencak silat memiliki kelebihannya masing-masing, kelebihan tersebut bagus dan layak dipelajari, meskipun Pak Boestam menggunakan pencak silat corak Madura sebagai ciri khasnya dalam perkembangannya nanti.

5. Perguruan Seni Beladiri Indonesia Tapak Suci Putera Muhammadiyah

Dari K.H. Boesjro Sjoehada adalah jawara silat dari aliran Banjaran tahun 1872. Sekembalinya dari Tanah Suci, ia mendirikan Pondok Pesantren Binorong di Banjarnegara, Jawa Tengah. Pesantren ini kemudian berkembang pesat, salah satunya adalah Soedirman yang kemudian menjadi Jenderal Panglima Besar.

H Boesjro Sjoehada pindah ke Yogyakarta karena adanya gerakan perlawanan bersenjata, sehingga menjadi sasaran penangkapan oleh rezim kolonial Belanda. Pesantren Pencak Silat Banjaran yang awalnya dikembangkan oleh Pondok Pesantren Binorong kemudian berkembang di Kauman, Yogyakarta.

Atas restu KH Boesjro Sjoehada, pada tahun 1925 dua siswanya yang kuat A. Dimjati dan M. Wahib membuka sekolah pencak silat dan menerima siswa di Kauman yang kemudian disebut Akademi Untuk Cikauman. Universitas ini memiliki landasan agama dan etnis yang kuat. Cocoman College melahirkan banyak pejuang muda, dan mereka akhirnya mendirikan perguruan tinggi cabang untuk memperluas cakupan mereka.

6. Phashadja Mataram

Phashadja Mataram berada di Yogyakarta pada tanggal 20 Oktober 1950 oleh K.R.T. Soetardjonegoro. Universitas yang berpusat di Jalan Gayam Mangkokusuman ini hanya menerima anggota laki-laki yang sudah dewasa karena mereka akan dididik menjadi laki-laki, keluarganya sendiri, dan pendeta yang nantinya akan menjadi pemimpin. Selain itu juga bertujuan untuk menghindari pikiran negatif. Siswa tidak hanya harus mendapatkan pelatihan keterampilan bela diri, tetapi juga mendapatkan pendidikan moral agar dapat berperilaku secara pantas, sopan dan tidak kasar.

Ketika mengurai nama Phashadja yaitu Pha dari segi atau puasa, Sha dari shandjata atau senjata, dan Dja dari djumedul atau asal, artinya senjata itu dilepaskan dengan berpuasa, demikianlah santri Mataram Phashadja kecuali untuk latihan fisiknya. Kenaikan level harus melalui puasa dan sholat Isya di Riyadh.

Phashadja Mataram adalah universitas yang semi terorganisir, hanya keturunan langsung dari K.R.T. menjadi pemimpin atau pejuang yang hebat. Soetardjonegoro.

7. Perguruan Pencak Indonesia Harimurti

Perguruan Pencak Indonesia Harimurti atau PerPI Harimurti didirikan oleh Soeko Winadi di Yogyakarta pada tanggal 23 Oktober 1932. SoekoWinadi belajar Pencak dari Raden Mas Harimoerti, cucu Sri Sultan Hamengkubuwono VII. R M. Harimoerti Tedjokoesoemo, putra dari G.P.H., mengajar pencak di Pendopo Ndalem Tejokusuman. Gaya seni bela diri ini disebut Pencak Tejokusuman.

Kepolisian Hindia Timur Belanda meragukan kegiatan pengajaran Pencak karena R.M. Hari Morty aktif mendukung gerakan nasional Boedi Oetomo. Untuk menghindari kecurigaan polisi, R.M. Harimoerti menutupi ujung pena dengan gerakan tarian.

Pada tahun 1932, R.M. Harimoerti menitipkan kuliahnya kepada Soeko Winadi yang resmi bernama Persatuan Pencak Indonesia disingkat PerPI, lantas diganti nama jadi Perguruan Pencak Indonesia, dan akhirnya menjadi PerPI Harimurti.

Baca Juga:

10 Pemain Bola Paling Kaya di Dunia, Ternyata bukan Ronaldo dan Messi

8. Persatuan Pencak Silat Indonesia

Persatuan Pencak Silat Indonesia (PPSI) didirikan pada tanggal 17 Agustus 1957 di Bandung, Jawa Barat, diketuai oleh Kolonel R.A. Kolonel Shirajat dan Kolonel Harun membantu Tentara Siriwangi dan Panglima Wilayah Ketiga Kosasi.

Salah satu pendiri PPSI adalah Raden Ema Bratakoesoemah atau Gan Ema, pejuang Gerakan Nasional Jawa Barat. Selain dikenal sebagai sesepuh Jazirah Jawa Barat, Gan Ema juga pernah menjadi pahlawan dalam peristiwa Danau Api Bandung dimana pasukan NICA dan Sekutu menduduki Bandung. Gan Ema belajar pencak dari ayahnya sejak berumur 9 tahun, dan ayahnya memiliki perguruan pencak di Ciamis. Pada tahun 1914, Gan Ema belajar pencak Cimande di Dayeuhkolot. Kemudian dari tahun 1918 hingga 1921 di Batavia, Gan Ema mendidik Ameng Pukul dan Ameng Sabeni. Gan Ema juga ahli dalam tradisi Cikalong, Sabandar, Suliwa dan Ameng Timbangan dari para ahli Pencak di Jawa Barat.

9. Persatuan Pencak Silat Putra Betawi

PPS Putra Betawi didirikan pada tanggal 20 Januari 1972 sebagai wadah yang menggabungkan berbagai pesantren dan silat Betawi menjadi satu organisasi. Guru besar pendukung pendirian organisasi ini berasal dari lebih dari 20 sekolah silat Betawi, antara lain Oetama bin Mahit Ateng Robain (Akademi Seni Bela Diri Putra Utama), Sa’aman (Akademi Silat Putra Jakarta), Endang Muhammad Sumarna (Sapu Jagat) Perguruan Silat ), Tjatja Muhammad Satiri (Syahbandar Shah College), Olive (Sutera Baja Shah College), Zakaria (Mustika Kwitang Shah College), Genta Shah College, Sikak Mas Shah College dan universitas lainnya. Saat itu H. Sa’ali dan S. H. terpilih sebagai ketua konferensi.

Organisasi tersebut telah ditangguhkan selama 10 tahun. Pada tanggal 24 Mei 1986 dilakukan merger untuk meningkatkan stabilitas organisasi serta memperbaiki dan mengembangkan kegiatannya. Saat itu, H. Daong Makmoer Zoelkarnaen terpilih menjadi ketua PPS Pangeran Betawi. Menurut data, memasuki milenium, terdapat lebih dari 50 pesantren atau pesantren Betawi yang belum sepenuhnya mencapai tujuannya, dan membutuhkan proses sosialisasi dan metode yang berkelanjutan.

10. Keluarga Pencak Silat Nusantara

Awalnya, Keluarga Pencak Silat Nusantara (disingkat KPS Nusantara) merupakan kelompok penelitian informal yang didirikan di Jakarta pada tanggal 28 Juli 1968, terdiri dari tiga intelektual muda yang bergerak di bidang teknologi IPSI, yaitu Mohamad Hadimoeljo, komposisi Dr. B.Sc. . Mohamad Djoko Waspodo dan Dr. Rachmadi Djoko Soewignjo. Ketiganya merupakan santri dari dua pejuang besar Penkak Setia Hati, Marjoen Soedirohadiprodjo dan Rachmad Soeronagoro.

Ketiga cendekiawan muda tersebut mengkhawatirkan perkembangan Penkash Mud yang dipengaruhi oleh masuknya pencak silat asing pada saat itu sehingga mempengaruhi minat para pemuda dan pelajar. Perkembangan pencak silat juga terhalang oleh eksklusivitas sekolah yang tidak mau terbuka.

Untuk membantu IPSI bertahan dalam masa sulit ini dan mencegah pencak silat tenggelam lebih jauh, tiga intelektual muda melakukan penelitian, penelitian dan penelitian komparatif melalui kelompok penelitian yang dibentuk oleh kelompok peneliti yang disebut Pencak Silat Nusantara. Mereka melakukan penelitian di berbagai sekolah seni bela diri, dan kemudian menggunakan pengetahuan mereka untuk mengubah pencak silat dari seni bela diri tradisional menjadi olahraga modern.

Untuk mencapai tujuan ini tidaklah mudah, karena bertentangan dengan tradisi. Janji mahasiswa Setia Hati melarang kuliah di perguruan tinggi lain. Namun setelah bekerja keras, mereka akhirnya berhasil membujuk guru Rachmad Soeronagoro untuk menunjukkan 36 tindakannya, hanya untuk menjaga rahasia inti dari tindakan tersebut. Mereka juga beruntung bisa kuliah di perguruan tinggi lain yang bisa meningkatkan jenjang pencak silat. Sikap tidak lazim para pendiri kelompok penelitian tidak merusak hubungan mereka dengan Setia Hati, sehingga hingga saat ini anggota KPS Nusantara dianggap bersaudara oleh anggota Setia Hati.

Ketiga pemuda tersebut juga menemui kendala saat ingin melanjutkan ke universitas lain karena dicurigai mencoba mencuri trik rahasia mereka. Terima kasih atas saran Marjoen Soedirohadiprodjo untuk mengatasi beberapa kendala tersebut.

Selama beberapa tahun mereka mendalami pencak silat di berbagai daerah, termasuk silat Cingkrik Betawi dari Mohamad Saleh. Mereka belajar di sekolah urinoir Jawa Barat Aan Marzoeki dan Hidajat, yaitu sekolah Cimande, Madi, Sabandar, Kari dan Taji. Selain itu, ia juga pernah belajar Pencak Gabungan dari Salamoen Prodjosoemitro, Silek Pariaman dari Itam dan Silek Lintau dari Amiroeddin. Lantas mereka mengambil gerakan yang paling efektif dan estetik dan memadukannya ke dalam bentuk bangsa yang baru, yang tercermin dari pemilihan nama Nusantara untuk menyebut Nusantara.